OPINI – Menjawab pertanyaan dari pageant lovers Indonesia yang mendorong saya untuk mengikuti kompetisi Miss Universe Indonesia 2026, saya melihatnya bukan sekadar sebagai pertanyaan tentang keberanian tampil di panggung. Bagi saya, keputusan untuk mengikuti sebuah kompetisi besar harus dipikirkan secara matang.
Saya harus realistis. Setiap tujuan besar membutuhkan peta jalan, bukan sekadar keberanian untuk maju.
Sebelum mengambil keputusan, saya harus menghitung semuanya dengan jernih: apakah usia saya masih memungkinkan, apa potensi yang benar-benar menjadi keunggulan saya, berapa dana yang tersedia, bagaimana struktur persiapan dan pelatihan, bagaimana strategi branding, siapa yang mendukung, serta dari mana sumber pendanaan dan sponsor.
Semua harus memiliki daftar, target, jadwal, indikator keberhasilan, dan perhitungan biaya yang jelas. Setelah itu barulah saya dapat mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab.
Bagi saya, inilah salah satu bentuk kecerdasan seorang perempuan.
Perempuan cerdas dan bernilai tinggi bukan hanya dinilai dari penampilannya, tetapi dari bagaimana ia berpikir, mengambil keputusan, memahami dirinya, serta menggunakan apa yang dimilikinya dengan tepat.
Ketika hanya ada sejumlah uang di dompet saya, saya tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya beli?” Saya justru bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan dengan uang ini agar menghasilkan daya ungkit yang lebih besar?”
Apakah uang tersebut hanya habis untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan sesaat, atau dapat digunakan untuk sesuatu yang memberikan manfaat lebih panjang?
Pertanyaan seperti inilah yang menurut saya perlu kita latih kepada perempuan Indonesia.
Kita tidak boleh hanya mengajarkan perempuan bagaimana tampil cantik, berjalan di atas panggung, memilih busana, merawat diri, dan membangun personal branding. Semua itu penting dalam dunia pageant. Namun, penampilan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran nilai seorang perempuan.
Perempuan juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi keuangan, kemampuan menghitung risiko, menentukan prioritas, membaca peluang, dan mengambil keputusan secara rasional.
Bahkan jika sebuah kompetisi membutuhkan dana sponsor hingga miliaran rupiah, dana tersebut tetap harus dipertanggungjawabkan secara strategis.
Misalnya, jika tersedia Rp5 miliar, saya harus bertanya: berapa banyak buku yang dapat diterbitkan dengan dana tersebut? Seberapa luas gagasan yang dapat disebarkan? Berapa banyak anak dan keluarga yang dapat memperoleh manfaat? Apakah dana tersebut dapat digunakan untuk membangun sebuah pilot project Rumah Pengasuhan Anak dan Pendidikan Keluarga yang manfaatnya dapat berlangsung jauh lebih lama?
Bukan berarti panggung tidak penting.
Panggung penting apabila dapat digunakan sebagai alat untuk memperbesar dampak.
Popularitas dapat menjadi modal komunikasi. Branding dapat menjadi pintu masuk. Gelar dapat menjadi legitimasi sosial. Tetapi semuanya harus diarahkan kepada sesuatu yang memiliki nilai dan manfaat.
Saya ingin perempuan Indonesia memahami bahwa mengetahui nilai diri bukan berarti merasa lebih tinggi daripada orang lain. Mengetahui nilai diri berarti memahami bahwa waktu, tenaga, pengetahuan, reputasi, kemampuan, jaringan, dan uang merupakan sumber daya yang harus dikelola dengan bijaksana.
Perempuan yang memahami nilai dirinya tidak mudah menghamburkan uang hanya demi gengsi atau pengakuan. Ia mampu membedakan antara kebutuhan, investasi, risiko, gengsi, dan kemanfaatan.
Karena itu, jika suatu hari saya memutuskan untuk maju ke sebuah kompetisi, saya ingin maju bukan hanya karena ingin tampil atau mengejar gelar.
Saya ingin tahu mengapa saya maju, apa yang ingin saya bawa, berapa investasi yang diperlukan, apa risikonya, siapa yang akan mendapatkan manfaat, dan warisan apa yang dapat saya tinggalkan setelah panggung itu selesai.
Sebab bagi saya, perempuan hebat bukan hanya perempuan yang mampu memperoleh kesempatan, tetapi perempuan yang mampu mengubah kesempatan menjadi nilai.
Cantik adalah penampilan.
Cerdas adalah cara berpikir.
Bernilai adalah kemampuan menciptakan manfaat.
Maka ketika orang bertanya, “Mengapa tidak ikut Miss Universe Indonesia 2026?”, jawaban saya sederhana:
Saya tidak takut maju. Saya hanya ingin memastikan bahwa ketika saya maju, saya tahu persis untuk apa saya maju dan apa yang ingin saya perjuangkan.
Berani bermimpi. Berani tampil. Tetapi yang paling penting, berani menghitung.
Oleh: Novita Sari Yahya (Aktivis Perempuan, Penulis, Pemerhati)



Comment