Foto: Kondisi Halte yang dijadikan menjadi lapak pedagang kaki lima (doc. JurnalCOM)
Foto: Kondisi Halte bus Rusak pada atap (Doc. JurnalCOM)

jurnalrealitas.com, Jakarta – Banyaknya halte bus di Jakarta Selatan yang kondisinya terlihat rusak dan tampak tak terawat ternyata mengundang rasa keprihatinan tersendiri dari berbagai pihak dan kalangan. Dari hasil investigasi dan penelusuran yang dilakukan oleh JurnalCOM di lapangan, masih ditemukan halte bus yang kondisinya tak terawat dan sangat memprihatinkan, hal ini diperparah dengan berubahnya fungsi halte bus dari yang seharusnya.

Fungsi halte yang seharusnya adalah tempat menunggu angkutan bagi para calon penumpang angkutan umum, faktanya berubah fungsi menjadi tempat jualan bagi para pedagang kaki lima. Dan selain berubah fungsi, sejumlah halte lainnya pun tampak tak terurus dan dibiarkan rusak.

Kondisi ini menimbulkan berbagai praduga dan sejuta tanda tanya bahkan kecurigaan terkait dengan kinerja kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan yang dijabat oleh Nurhayati Sinaga atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Aik Sinaga. Dari alokasi penggunaan anggaran dari APBD saja untuk pembangunan, pemeliharaan dan perawatan termasuk pengecatan dan pemasangan Papan nama halte bus yang ada di wilayah Jakarta Selatan pada tahun 2012 nilainya sungguh fantastis yang mencapai hingga Rp 1.550.000.000,-. Dengan nilai angaran yang millyaran dan segunung tersebut seharusnya halte-halte bus di Jakarta selatan sudah jauh dari kata tak terurus, bukan malah sebaliknya terlihat dilapangan kondisi halte yang benar-benar tak terawat.  Lalu pertanyaannya adalah kemanakah aliran anggaran tersebut dikucurkan kalau toh saja halte-halte bus tetap merana tak tersentuh perawatan?

Faktanya penelusuran JurnalCOM baru-baru ini dilapangan, ditemukan halte bus yang kondisinya terlihat rusak parah dan nampak tak terawat. Kerusakan terjadi terutama pada bagian atap halte yang kelihatan bolong dan keropos serta berkarat, sedangkan dibagian plat besi atau pipa besi tempat duduk calon penumpang bahkan ada yang hilang dan terpotong, belum lagi dengan lantai halte keramiknya banyak yang hilang dan cat besinya pun juga terkelupas. Dari sisi lampu untuk penerangan juga banyak yang mati serta tidak menyala, padahal khusus untuk lampu penerangan di halte bus pada tahun 2012 saja Suku Dinas Perhubungan Jaksel menganggarkan Rp 50 Juta.

Selain alokasi penggunaan anggaran yang tidak maksimal, pengawasan terhadap penggunaan fungsi halte bus juga dinilai masih lemah dari Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, karena fungsi halte akan maksimal jika disertai dengan pengawasan yang baik dari petugas dilapangan.

<RS>