OPINI – Semua yang bermula akan jumpa muara, setiap pengabdian akhirnya akan tiba di gerbang purna. Demikian ketetapan zaman bagi Prof. Dr. H. Herri Swantoro, S.H., M.H., Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Yogyakarta. Genap mengakhiri masa pengabdian empat dasawarsa.
Namun, mengukur jejak seorang pimpinan tak cukup hanya menilik lembar kalender. Pun menghitung perpisahan di ruang sidang. Lebih dari sekadar tumpukan berkas dan penanggalan jabatan, jejak pemikiran yang akan abadi. Dari ketajaman visi dan kegelisahan intelektualnya dahulu lahir Majalah Dandapala. Sebuah warta berkala yang tak sekadar memuat kabar berita, ia hadir menjadi suluh pemikir, penjaga marwah, dan pemersatu insan peradilan umum di seluruh pelosok persada. Sang Penjaga Keadilan.
Dandapala dan Transformasi Zaman
Alkisah pada tahun 2015, ketika Hakim kelahiran Wonosobo menjabat sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Badan Peradilan Umum (Badilum) Mahkamah Agung, timbul hasrat luhur menggagas media komunikasi antar-hakim dan aparatur peradilan yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.
Dikenal sebagai sosok perfeksionis dan amat gemar membaca serta mengapresiasi tulisan, mengumpulkan para hakim muda pemikir dari pelbagai daerah untuk mendirikan sebuah wadah wacana internal. Nama Dandapala yang berasal dari bahasa sansekerta dipilih untuk melambangkan ketegasan hukum dan peradilan yang sarat makna.
Dari berkas cetak yang beraroma tinta kertas, Dandapala terbit berkala setiap dua bulan. Menjadi bacaan wajib serta media bertukar pikiran bagi aparatur peradilan di lingkungan peradilan umum.
Masa berganti, zaman berputar. Doktor bidang hukum lulusan Universitas Padjajaran Bandung berpesan “mentalitas yang tak mau berubah dan tak sanggup beradaptasi dengan zaman adalah mentalitas yang lemah.”
Dandapala, gagasan yang dilahirkannya terus hadir menyapa pembaca, meski Herri Swantoro tak lagi memegang tampuk jabatan Dirjen Badilum. Menapaki usia satu dasawarsa, gagasan itu tak biarkan lapuk dimakan usia. Majalah Dandapala melangkah gagah melakukan transformasi ke era digital (dandapala.com).
Lembaran majalah dari susunan kertas tebal, telah menjelma menjadi warta digital. Dapat diakses seketika melalui layar jemari, menjangkau pembaca hingga ke pelosok persada, bahkan masyarakat luas pecinta hukum. Dari yang semula sekali dua bulan, kini hadir 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan 30 hari sebulan serta 365 setahun.
Purnabakti Sang Penggagas, Abadi Sebuah Karya
Kini, Sang Penggagas resmi mengakhiri tugasnya, Ketua PT Yogyakarta menjadi penutup pengabdiannya sebagai Wakil Tuhan. Toga hakim dan pin jabatan, cakra, telah dilepaskan. Dalam upacara purnabakti yang khidmat, berganti untaian kalung melati sebagai pertanda purna tugas yang harum selama lebih dari empat dasawrsa.
Ibarat kata peribahasa tempo doeloe: “Pohon boleh berganti daun, namun akarnya tetap meresap tegap ke dalam bumi.” Herri Swantoro boleh saja melangkah purna, namun obor semangat dan gagasan yang dinyalakannya satu dasawarsa silam tidaklah padam. Dandapala tetap hidup, bergerak dinamis, dan menjadi saksi bisu atas visi besar seorang tokoh yang merawat marwah peradilan melalui kedalaman tulisan.
Kepada Prof. Dr. H. Herri Swantoro, S.H., M.H.:
Segenap redaksi dan pembaca setia Majalah Dandapala haturkan tabik rasa hormat nan tinggi dari hati terdalam. Selamat memasuki masa purna tugas dengan penuh kebanggaan bersama keluarga tercinta. Terima kasih atas cermin kerapian, ketegasan, dan warisan literasi hukum yang tak ternilai harganya.
Raga boleh purna bhakti, namun karya dan Dandapala akan terus mengabadi
oleh: Tim Dandapala



Comment